Cara Mendirikan Perusahaan Fintech di Indonesia – Startup Fintech di seluruh dunia telah meningkat dari 12.131 pada 2018 menjadi 20.925 pada 2020. Pertumbuhan signifikan 72% ini meningkat dalam dua tahun terakhir. Artinya, perkembangan fintech akan terus berkembang. Di Indonesia sendiri, gerakan startup Fintech bisa dikatakan terus mengalami perkembangan yang pesat. Dalam beberapa tahun terakhir, kebangkitan bisnis fintech mendapat banyak perhatian karena tantangan bagi perusahaan jasa keuangan saat ini, termasuk model perbankan tradisional.

Lihat juga:
Memperoleh Lisensi Fintech P2P Lending
Pembubaran Perseroan di Indonesia
Perusahaan Konstruksi (BUJK) di Indonesia & Bagaimana Cara Mendirikannya?
Dikutip dari Jasa Pendirian Teknologi keuangan (Fintech) digunakan untuk menggambarkan teknologi baru yang berusaha meningkatkan dan mengotomatisasi pengiriman dan penggunaan layanan keuangan. Pada intinya, fintech digunakan untuk membantu perusahaan, pemilik bisnis, dan konsumen mengelola operasi, proses, dan kehidupan finansial mereka dengan lebih baik dengan memanfaatkan perangkat lunak dan algoritme khusus yang digunakan di komputer dan, semakin banyak, smartphone. (Menyerap cara lama dalam menangani data dan menanamkan cara baru atau standar operasi keuangan).

Pada artikel ini, kita akan membahas cara mendirikan perusahaan Fintech di Indonesia dan cara menjalankannya dengan aman.

Apa itu Perusahaan Fintech?
Apa itu Perusahaan Fintech?

Fintech adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan teknologi keuangan, sebuah industri yang mencakup semua jenis teknologi dalam layanan keuangan – dari bisnis hingga konsumen. Fintech menjelaskan perusahaan mana pun yang menyediakan layanan keuangan melalui perangkat lunak atau teknologi lain dan mencakup apa pun mulai dari aplikasi pembayaran seluler hingga cryptocurrency.

Secara umum, fintech menggambarkan setiap perusahaan yang menggunakan internet, perangkat seluler, teknologi perangkat lunak, atau layanan cloud untuk melakukan atau terhubung dengan layanan keuangan. Banyak produk tekfin dirancang untuk menghubungkan pembiayaan konsumen dengan teknologi untuk kemudahan penggunaan.

Fintech telah membuat terobosan dengan lusinan aplikasi dan telah mengubah cara konsumen mengakses keuangan mereka. Dari aplikasi pembayaran seluler dll.

Awalnya, fintech mengacu pada teknologi yang diterapkan pada sistem back-end bank atau lembaga keuangan lainnya – tetapi sejak itu berkembang untuk memasukkan sejumlah besar aplikasi lain yang lebih fokus pada konsumen.

Kategori / Ketik Fintech
Tipe Fintech

1. Pinjaman Peer-to-Peer (P2P) dan Crowdfunding
Untuk memahami PEER-TO-PEER LENDING (P2P Lending) di Indonesia , kita perlu mengacu pada peraturan OJK yang telah mengatur hal tersebut, yaitu POJK 77/2016. Menurut Peraturan OJK 77/2016, P2P adalah layanan pinjam meminjam uang langsung dalam mata uang rupiah antara kreditur/pemberi pinjaman (lender) dan peminjam/peminjam berbasis teknologi informasi (penerima pinjaman). Fintech lending juga disebut sebagai Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi (LPMUBTI).

(P2P lending dan crowdfunding disebut juga sebagai financial marketplace. Platform seperti ini mampu mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana sebagai modal atau investasi. Biasanya proses melalui P2P lending lebih praktis karena bisa dilakukan dalam satu platform online).

Per 22 Januari 2021, total operator fintech yang terdaftar dan berizin sebanyak 148 perusahaan. OJK menghimbau masyarakat untuk menggunakan penyedia layanan fintech lending yang terdaftar/berlisensi oleh OJK.

Untuk informasi lengkap tentang penyedia fintech lending, silakan klik tautan berikut: https://www.ojk.go.id/id/kanal/iknb/financial-technology/Pages/-Penyelenggara-Fintech-Lending-Terdaftar-dan- Berizin-di-OJK-per-22-Januari-2021.aspx

Catatan: Lisensi Tambahan untuk Bisnis P2P

Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik di Kominfo
Wajib melampirkan bukti pendaftaran Penyelenggara sistem elektronik. Untuk mendapatkan bukti pendaftaran tersebut, Penyelenggara wajib mendaftar https://pse.kominfo.go.id/

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah letak data center dan data center bencana yang harus berada di Indonesia.

2. Manajemen Risiko Investasi
Pada tipe yang satu ini, Anda bisa memantau kondisi keuangan dan juga melakukan perencanaan keuangan dengan lebih mudah dan praktis. Jenis manajemen risiko investasi biasanya ada dan Anda dapat mengaksesnya melalui smartphone. Anda hanya perlu menyediakan data yang dibutuhkan untuk dapat mengontrol keuangan Anda.

3. Pembayaran, Kliring, dan Setelmen
Ada beberapa startup keuangan yang kerap menyediakan payment gateway atau e-wallet, baik yang masih masuk dalam kategori payment, clearing, dan settlement.

4. Pengumpul Pasar
Jenis fintech saat ini mengacu pada portal yang mengumpulkan berbagai informasi terkait keuangan untuk disajikan kepada audiens atau pengguna yang ditargetkan. Biasanya fintech jenis ini memuat berbagai informasi, tips keuangan, kartu kredit, dan investasi. Dengan jenis fintech ini, diharapkan Anda dapat menyerap banyak informasi sebelum mengambil keputusan keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *